mineral

Posted by | Posted in Academic | Posted on 20-06-2010

Pendahuluan

Mineral adalah bahan anorganik, bahan kimia yang didapat makhluk dari alam, yang asalnya ialah dari tanah. Mineral ada yang larut dalam air lalu masuk tubuh lewat air minum atau air yang dipakai untuk mencuci sayur dan memasak. Mineral masuk ke dalam tubuh dalam bentuk garam lalu digunakan dalam bentuk elektrolit. Elektrolit adalah bentuk ion dari mineral yang bermuatan positif (+) dan negatif (-). Ada sebagian mineral yang dipakai sel sebagai poros atau inti suatu molekul, ada pula yang dipakai untuk menghubungkan suatu cabang ke cabang yang lain (Siswono 2001).

Mineral yang masuk kedalam tubuh lewat makanan sebagian diabsorpsi oleh dinding usus. Makanan yang masuk kedalam tubuh terdiri dari bahan organik dan air sebesar 96 % dan sisanya terdiri dari unsur mineral. Mineral dikenal sebagai zat anorganik atau kadar abu. Dalam proses pembakaran, bahan-bahan organik terbakar, tetapi zat anorganik tidak terbakar, karena itu bahan anorganik disebut abu (Winarno 1992).

Ada banyak unsur mineral yang sangat dibutuhkan tubuh yang berbeda jenisnya yang diperlukan manusia agar memiliki kesehatan dan pertumbuhan yang optimal. Mineral yang digunakan oleh tubuh ialah: Fe (ferum, zat besi), Ca (calsium, zat kapur), Na (natrium), K (kalium), Cl (chlor), Mg (magnesium), P (phosphor, fosfor), S (sulfur, belerang), Zn (zink, seng), I (iodium), F (flor), Co (cobalt), St (strontium). Sekitar 60 % Fe yang diabsorpsi usus dipakai untuk membuat hemoglobin (Hb), 20% lainnya untuk membentuk mioglobin otot dan dalam enzim pernafasan, dan 20 % lagi disalurkan kedalam hati, limpa, dan sumsum tulang belakang. Mineral yang sangat sering dibahas adalah kalsium, besi, yodium, fluorin, dan seng.

Kalsium yang terdapat dalam tubuh terdapat pada plasma darah, sebagian dalam bentuk ion, dan sebagian lagi bergabung dengan protein. Kalsium berguna untuk membentuk tulang dan gigi. Peranannya yang sangat penting ialah untuk membantu otot berkontraksi dan rileks. Kalsium juga berperan dalam proses pembekuan darah dan pembekuan susu. Penyerapan kalsium bertalian dengan bebutuhan tubuh dan adanya fosfor, vitamin D, laktose, dan vitamin C (Suhardjo at ol 1986 )

Fosfor (P) memegang peranan penting dalam membina struktur dan fisiologi tubuh. ATP, asam nukleat, membran, protein, dan berbagai macam enzim mengandung unsur P dalam bentuk ikatan fosfat. Untuk melepaskan glukosa dari glikogen sebagai sumber energi dan untuk merubah glukosa menjadi glukogen yang akan di simpan dalam hati dan otot perlu gugus fosfat sebagai pelaksana reaksi. Dalam bentuk garam anorganik unsur ini mudah diabsorpsi dari usus. Dalam darah sangat penting, ikut membina eritrosit dan plasma darah. Kelebihan P sebagian besar dibuang lewat kemih, sebagian kecil lewat tinja.
Dalam tulang rawan penting untuk proses pembentukan tulang.
Unsur ini juga perlu memelihara kelancaran fungsi ginjal menyaring ampas metabolisme untuk jadi kemih.

Magnesium (Mg) sebagian besar terkandung dalam tulang. Juga berperan untuk kelancaran pekerjaan berbagai enzim. Fosfat (F) banyak terkandung dalam air minum. Jika minum air yang mengadung banyak F berlebihan maka gigi jadi rusak dan berwarna coklat. Namun jika masuk dalam tubuh secara biasa, artinya dalam kadar normal, unsur ini perlu untuk pertumbuhan dan pemeliharaan gigi (Siswono 2001)

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kandungan mineral dalam larutan, sifat larutan, serta manfaatnya bagi tubuh.

Metode Praktikum

Alat yang digunakan pada praktikum mineral ini adalah gelas piala, tabung reaksi, kertas saring, erlenmeyer, pipet volumetrik, batang pengaduk, biuret, kertas lakmus, dan pipet tetes.

Sedangkan bahan yang digunakan adalah tepung tulang, NH4OH pekat, HCl 10 %, asam asetat 10 %, urea 10%, pereaksi ferosulfat khusus, kristal amonium klorida, larutan amonium tiosianat, kristal dinatrium hidrogen fosfat, HNO3 10%, AgNO3 2%, BaCl2, amonium oksalat 1%, pereaksi molibdat khusus, kristal amonium karbonat, NH4OH dan larutan kalium ferosianida.

Praktikum mineral terdiri dari tiga macam percobaan yaitu pembuatan abu tulang, pengujian filtrat, dan pengujian endapan. Pembuatan abu tulang dilakukan dengan menambahkan  NH4OH pekat ke dalam larutan abu tulang (filtrat) sampai bereaksi basa dengan menggunakan lakmus sebagai indikator (warna lakmus merah menjadi biru). Setelah itu dilakukan penyaringan untuk mendapatkan filtrat yang akan digunakan pada percobaan berikutnya. Tetapi pada percobaan kali ini tidak dilakukan pembuatan abu arang.

Pengujian filtrat terbagi lagi menjadi dua yaitu uji klorida dan uji sulfat. Pada uji klorida, sebagian filtar diasamkan dengan larutan HNO3 10 % dan sebagian dibiarkan untuk uji endapan. Ke dalam filtat asam tersebut ditambahkan larutan AgNO3 2 %, kemudian diamati terjadinya endapan putih yang menunjukkan adanya klor. Sedangkan pada uji fosfat, sebagian filtrat ditambahkan larutan HCl 10% sampai larutan menjadi basa. Ke dalam filtat tersebut ditambahkan lagi larutan BaCl2, lalu diamati terjadinya endapan putih yang akan menunjukkan adanya sulfat.

Pengujian endapan terdiri dari empat macam uji yaitu uji kalsium, uji fosfat, uji magnesium, dan uji besi. Sebelumnya dilakukan penambahan asam asetat 10 % pada endapan yang terdapat pada kertas saring kemudian filtrat asam hasil pencucian endapan di dalam gelas piala dan jumlahnya disesuaikan untuk pengujian selanjutnya.

Pada uji kalsium, 2 ml filtrat tersebut ditambahkan 1 ml amonium oksalat 1%. Lalu diamati pembentukan endapan putih yang menunjukkan adanya kandungan kalsium. Pada uji fosfat, 1 ml filtrat ditambahkan 1 ml larutan urea 10% dan pereaksi molibdat khusus. Pembentukan warna biru pada larutan yang makin lama makin pekat menunjukkan adanya fosfat. Pada uji magnesium, sisa filtrat dipanaskan sampai mendidih. Lalu, ditambahkan kristal amonium karbonat dan amoium klorida sedikit demi sedikit. Penambahan dilakukan sampai tidak terbentuk endapan lagi dan disaring. Dalam filtrat tersebut, ditambahkan lagi kristal dinatrium hidrohen fosfat dan larutan amonium hidroksida sampai basa. Kemudian dilihat pembentukan endapan putih yang akan menunjukkan adanya magnesium.

Setelah itu ditambahkan sedikit larutan HCl 10% pada sistem endapan yang tidak larut dalam asam asetat di kertas saring (hasil pengujian endapan). Filtrat asam klorida kemudian dipisahkan untuk digunakan pada uji berikutnya. Pada uji besi, dilakukan dua kali percobaan, yaitu menggunakan filtrat dari hasil pembuatan abu tulang dan filtrat dari uji magnesium dengan perlakuan yang sama.

Percobaan pertama dilakukan dengan menambahkan 1 ml larutan amonium tiosianat ke dalam sedikit filtrat, kemudian diamati terbentuknya warna merah. Percobaan kedua dilakukan dengan menambahkan 1 ml larutan kalsium ferosianida ke dalam filtrat, kemudian diamati terbentuknya warna biru atau hijau.Warna yag terbentuk menunjukkan adanya besi (Fe).

Hasil dan Pembahasan

Tabel 1 uji filtrat

Jenis uji Hasil Keterangan
Uji klorida + Terdapat endapan putih
Uji sulfat + Terdapat endapan putih

Keterangan : + uji positif

– uji negatif

Sulfat              Klorida

Tabel 2 uji endapan

Jenis uji Hasil Keterangan
Uji kalsium + Terdapat endapan putih
Uji Fosfat + Terdapat endaapan biru
Uji Magnesium + Terdapat endapan putih
Uji Besi
Fe 3+ + Warna merah
Fe2+ + Warna hijau

Keterangan : + uji positif

– uji negatif

Kalsium,fosfat, megnesium, besi (Fe2+ dan Fe3+ )

Tulang mengandung sekitar 60 persen garam anorganik P dan 40 persen garam organik, terutama dalam bentuk osein. Selain itu dalam tulang ada berbagai unsur mineral lain, yaitu Ca, Mg, Na, K, Str, dan Fe. Mineral dalam tulang berupa apatit, garam Ca-fosfat, dan kapur (CaCO3). Gigi juga banyak mengandung P. Lapisan email dan dentin mengandung Ca-fosfat berkadar tinggi, tetapi lebih rendah kadar CaCO3 dibanding tulang. Mineral tulang, termasuk garam fosfat, terus menerus  mengalami perombakan, penumpukan sesuai dengan kebutuhan metabolisme tubuh (Siswono 2001)

Uji klorida pada filtrat menghasilkan endapan putih sehingga dalam tulang tersebut mengandung klorida. Pereaksi asam nitrat yang digunakan dalam uji klorida sebagai katalisator, dan AgNO3 akan bereaksi dengan klorida membentuk AgCl sebagai endapan putih. Adanya endapan putih yang dibentuk membuktikan adannya klorida pada tulang. Reaksi yang terjadi : AgNO3 → AgCl + NO3.

Uji sulfat pada filtrate tidak membentuk endapan putih, sehingga dapat dikatakan bahwa dalam filtrate tulang tidak mengandung sulfat. Asam klorida yang dipakai dalam uji sulfat sebagai katalisator, dan barium klorida akan bereaksi bila ada sulfat membentuk barium sulfat. Reaksi yang terjadi : AgNO3 → AgCl + NO3.

Endapan yang dihasilkan dari uji sebelumnya diuji dengan  kalsium fosfat dan magnesium. Endapan yang diuji diberi penambahan asam asetat untuk melarutkan kalsium, magnesium, dan fosfat, yang mana larutan tersebut diuji kalsium, magnesium, dan fosfat.  Sedangkan endapan yang terbentuk dari sisa penambahan asam akan diuji terhadap besi.

Uji kalsium pada percobaan ini menghasilkan endapan putih yang artinya uji positif. Penambahan pereaksi amonium oksalat akan bereaksi dengan kalsium yang ada difiltrat tersebut. Endapan yang dihasilkan adalah kalsium oksalat. Reaksi yang terjadi : Kalsium—-Ca + K4[Fe(CN)6] → Fe4[Fe2(CN)6]3. Jika seseorang kekurangan kalsium (Ca) maka tulang dan gigi akan menjadi lunak dan tipis. Rambatan perangsangan juga akan terganggu, menyebabkab otot kesemutan lalu kejang-kejang. Pada wanita hamil dan menyusui, jika pasokan makanan kurang, tulang janin akan menjadi lunak dan tipis. Unsur ini juga berperan dalanm pembekuan darah dan pembekuan susu, sehingga jika kekurangan maka proses penggumpalan darah jika terluka maka akan menjadi lambat. Air susu juga akan sulit menggumpal sehingga sulit untuk dicerna (Suhardjo at ol 1986 ).

Uji fosfat pada percobaan menghasilkan uji positif dengan terbentuknya warna biru makin pekat. Pembentukan warna biru makin yang pekat menunjukan adanya fosfat. Peranan fosfor dalam tubuh sama seperti kalsium, yaitu untuk pembentukan tulang dan gigi dan penyimpanan dan pengeluaran energi (perubahan antara ATP dengan ADP). Reaksi yang terjadi : — FeSO4 + PO4-3 → Fe3(PO4)2 + SO4-2 . Jika seseorang kekurangan unsur ini maka pembentukan ATP akan terganggu. Selain itu pembentukan tulang rawan akan terganggu.

Pada Uji magnesium percobaan menghasilkan endapan. Endapan tersebut disaring dan ditambahkan kristal dinatriun hidrogen fosfat dengn larutan amonium hidroksida maka akan  menghasilkan endapan putih. Endapan putih tersebut menunjukkan adanya magnesium. Hasil endapan tersebut digunakan untuk uji besi. — Mg + NaHPO4 → MgHPO4 +2Na.

Pada percobaan uji besi, filtrat ditambah dengan amonium tiosianat membentuk endapan berwarna merah. Sedangkan ketika filtrat ditambah dengan kalium ferosianida membentuk endapan warna hijau. Warna merah dan hijau tersebut menunjukkan adanya besi. Berbedaan ion besi menyebabkan perbedaan reaksi yang terjadi, sehingga warna yang terjadi juga berbeda. Reaksi yang terjadi  pada Fe2+ :  Fe+3 + 6NH4SCN →  [Fe(SCN)6]-3 + 6NH4+. Sedangkan pada Fe3+ reaksi yang terjadi : 4Fe+3+ + 3K4[Fe(CN)6] → Fe4[Fe2(CN)6)]3 + 12K+. Jika seseorang kekurangan unsur besi maka pembentukan hemoglobin akan terganggu. Selain itu dapat menyebabkan amenia atau kekurangan darah (Siswono 2001).

Kesimpulan

Mineral yang banyak berperan penting di dalam tubuh diantaranya adalah klorida (Cl), kalsium (Ca), fosfor (P), dan magnesium (Mg). Mineral tersebut termasuk mineral makro. Sedangkan besi (Fe) merupakan mineral makro. Fosfor dan kalsium banyak terdapat dalam tulang. Hal ini dapat dibuktikan dengan uji mineral fosfat dan kalsium pada filtrat abu tulang. Adanya kandungan kalsium ditandai dengan endapan putih, sedangkan kandungan fosfor ditandai dengan warna biru kehijauan. Adanya klorida dan sulfur ditandai dengan adanya endapan putih. Sedangkan pada besi hasil reaksi positif ditandai larutan yang bewarna hijau dan merah. Kebutuhan akan mineral harus dipenuhi agar kesehatan dan sistem dalam tubuh dapat berjalan dengan baik.

Daftar Pustaka

Siswono.2001. Mineral dalam kehidupan. http//www.gizi.net. [14 Desember 2009]

Suharjdo  at ol. 1886. Pangan, Gizi, dan Pertanian. Jakarta : Universitas Indonesia

Winarno F.G.1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

vitamin

Posted by | Posted in Academic | Posted on 20-06-2010

Pendahuluan

Vitamin adalah suatu zat senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita yang berfungsi untuk mambantu pengaturan atau proses kegiatan tubuh.  Kata vitamin diambil dari bahasa latin ‘vita’ yang berarti hidup. Vitamin merupakan kelompok gizi yang baru.Tanpa vitamin manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya tidak akan dapat melakukan aktifitas hidup dan kekurangan vitamin dapat menyebabkan memperbesar peluang terkena penyakit pada tubuh kita.Vitamin berdasarkan kelarutannya di dalam air , vitamin dibedakan menjadi vitamin yang larut dalam air, contoh; vitamin B dan vitamin C,  dan vitamin yang tidak larut dalam air; vitamin A, D, E, dan K(Suhardjo at ol 986).

Berbagai macam vitamin dapat diperoleh dari konsumsi sayur dan buah. Kekurangan vitamin dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit. Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan rabun senja, infeksi saluran pernafasan, menurunkan daya tahan tubuh, kekurangan vitamin B menyebabkan kulit kering dan bersisik. Vitamin B bersumber dari daging susu dan kacang hijau. Kekurangan vitamin B2 menyebabkan bibir pecah- pecah dan sariawan. Kekurangan vitamin B3 menyebabkan penyakit imnosia, muntal dan muntah-muntah, kekurangan vitamin B5 dapat menimbulkan otot mudah keram, kekurangan vitamin B6 menimbulkan pelagra atau kulit pecah-pecah, sedangkan kekurangan vitamin B12 menyebabkan anemia dan penyakit pada kulit. Kekurangan vitamin D menyebabkan gigi mudah rusak, kejang-kejang dan pertumbuhan tulang yang tidak normal. Kekurangan  vitamin E dapat  menyebabkan kemandulan, dan gangguan syaraf (Animin a 2009).

Vitamin C atau L- asam askorbat merupakan senyawa esensial bagi manusia, yang berfungsi sebagai vitamin dan diperlukan dalam reaksi metabolik. Reaksi ini dilakukan secara internal. Pada organisme hidup, askorbat berfungsi sebagai anti oksidan yang melindungi tubuh terhadap stress oksidatif dan merupakan kofaktor untuk biosintesis. Vitamin ini juga berperan sebagai donor elektron bagi enzim. Asam askorbat melakukan berbagai fungsi fisiologis dalam tubuh manusia. Fungsi-fungsi ini mencakup sintesis kolagen, karnitin dan neurotransmitter, sintesis dan katabolismedari tirosindan metabolisme microsome. askorbat bertindak sebagai agen pereduksi (yaitu donor elektron, anti-oksidan).

Vitamin C merupakan nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin C mempunyai nama kimia yang diambil dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin C termasuk golongan antioksidan karena sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam, oleh karena itu penggunaaan vitamin C sebagai antioksidan semakin sering dijumpai (Animin a 2009).

Vitamin C juga berperan penting dalam membantu penyerapan zat besi dan mempertajam kesadaran. Sebagai antioksidan ia mampu menetralkan radikal bebas di seluruh tubuh. Melalui pengaruh pencahar, vitami C dapat meningkatkan pembuangan fases atau kotoran. Konsumsi vitamin C yang  berlebihan, mengakibatkan diare, gangyan pencernaan,  penurunan produksi mitokondria, menghambat kapasitas daya tahan, dan merangsan keguguran dini pada ibu hamil.

Kecukupan vitamin C akan membantu pembentukan kolagen atau senyawa berisi asam amino mirip lem pengikat sel. Zat perekat ini menjadi bagian susunan utama jaringan penghubung seperti kulit, tulang, dan ikatan sendi tulang. Kolagen menjaga kekenyalan dan kelenturan kulit dengan bantuan vitamin C.

Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan gusi berdarah, sariawan, nyeri otot atau gangguan syaraf. Kekurangan lebih lanjut mengakibatkan anemia, sering mengalami infeksi dan kulit kasar. Sementara kelebihan vitamin C dapat menyebabkan diare. Bila kelebihan vitamin C akibat penggunaan suplemen dalam waktu yang cukup lama dapat mengakibatkan batu ginjal, sedangkan bila kelebihan vitamin C yang berasal dari buah-buahan umumnya tidak menimbulkan efek samping (Suhardjo at ol 986).

Percobaan ini berertujuan untuk mengetahui kadar vitamin C dalam tablet dan  sari buah serta mengetahui manfaatnya.


METODE PERCOBAAN

Alat yang digunakan pada percobaan ini antara lain; titri meter, pipet volumetri 25 ml, pipet volumetri 10 ml, bulp, dan erlemeyer. Sedangkan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah  tablet vitamin C, akuades dingin, H2SO4 2N, Larutan iod  0,1 N,larutan tiosulfat, sari buah (jeruk).

Pada titrasi blangko, 20 ml akuades dimasukan ke dalam erlemeyer, kemudian ditambahkan  15 ml H2SO4 2N, dan ditambahkan pula dengan 15 ml iod 0.1 N, setelah itu dilakukan penitraan menggunakan larutan tiosulfat 0.1N hingga berwarna kuning jernih. Setelah itu ditambahkan dengan 2 tetes pati dan dititrasi kembali hingga warnanya jernih. Dihitung volume tiosulfat yang digunakan.

Pada penentuan vitamin C dalam tablet, 300 mg tablet vitamin C di larutkan kedalam 20 ml akuades dingin yang sebelumnya telah dididihkan, kemudian ditambahkan 5 ml H2SO4 2N, dan tambahkan pula 25 ml larutan iod 0.1 N. setelah itu penitraan dilakukan dengan larutan tiosulfat 0,1 N sebagai indicator adanya larutan pati dan dihitung jumlah ml tiosulfat yang digunakan, dan tentukan kadar vitamin C dalam tablet. 1 ml tiosufat setara dengan 8.08 mg vitamin C.

Pada percobaan penentuan vitamin C dalam buah, Jeruk diperas dan air perasan ditampung kedalam erlemeyer. Selanjutnya ditabahkan 5 ml H2SO4 2N, dan tambahkan pula 25 mllarutan iod 0.1 N. setelah itu penitraan dilakukan dengan larutan tiosulfat 0,1 N sebagai indicator adanya larutan pati. Dihitung jumlah ml tiosulfat yang digunakan. Untuk 10 ml jus jeruk digunakan 25ml larutan iod 0.1 N. Selanjutnya dilakukan penitraan blangko dan tentukan kadar vitamin C dalam buah jeruk.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel 1 penentuan vitamin C dalam tablet

Larutan Volume awal(ml) Volume

ahir (ml)

Volume terpakai (ml) Volume terkoreksi (ml) Volume rata-rata (ml) Kadar vitamin C

(mg/ml)

Blanko 1 0 14.5 14.5 14.55                  –
Blanko 2 14.5 29.1 14.6
Vitamin C1 0 8.5 8.5 6 48.48
Vitamin C2 9 16.5 8.5 6.1 8.5                 49.28

Tabel 2 penentuan vitamin C dalam sari buah

Larutan Volume awal(ml) Volume

ahir (ml)

Volume terpakai (ml) Volume terkoreksi (ml) Volume rata-rata (ml) Kadar vitamin C

(mg/ml)

Vitamin C1 19.6 32.7 12.1 2.4 12.2 4.88
Vitamin C2 32.5 44.7 12.3 2.25 4.96

proses pada blanko

Ditambah tiosulfat                       Ditambah pati                              hasil ahir

Contoh perhitungan

Volume terpakai pada blanko = vol ahir – vol awal

= 14.5 – 0

= 14.5

Volume terkoreksi pada vit C tablet = vol blanko – vol terpakai

= 14.5 – 8.5

= 6

Kadar vit C tablet = vol terkoreksi x 8.08

= 6 x 8.08

= 48.48

Kadar vit C sari buah = vol terkoreksi x 8.08

Vol sari buah

= 2.4 x 8.08

20

= 4.88

Pembahasan

Volume terpakai merupakan selisih dari volum akhir dengan volume awal. Pada uji penentuan vitaminC dalam tablet,Volume terpakai pada blanko ulangan 1 dan 2 berturut-turut adalah 14.5 dan 14.6, sedangkan volume terpakai pada vitamin C adalah 8.5. Volume terkoreksi merupakan selisih antara volum blanko dengan volume terpakai. Volume terkoreksi pada vitamin C adalah 6 dan 6.1. sedangkan kadar vitamin C dihitung dengan cara pengalian volume terkoreksi dengankadar vitamin C dalam tablet (8.08 mg).

Pada uji penentuan Vitamin C dalam buah,volume terpakai adalah 12,1 dan 12,3, sedangkan voleme terkoreksi pada ulangan 1 dan 2 berturut-turut adalah 2.4 dan 2.25, sedangkan kadar vitamin C diperoleh 4.88 dan 4.96. Kadar vitamin C pada tablet lebih besar bila dibandingkan dengan kadar vitamin C pada buah. Hal ini disebabkan karena kadar vitamin C pada tablet dapat ditentukan, sedangkan vitamin C pada buah tidak dapat ditentukan dan merupakan kadar alami. Oleh karena itu penggunaan vitamin C  dalam yang dikonsumsi secara berlebihan akan mengakibatkan timbulnya efek samping dan berbahaya bagi tubuh, seangkan konsumsi buah yang berlebihan tidak akan menyebabkan efek samping dan aman bagi tubuh.

Kebutuhan vitamin C memang berbeda-beda bagi tiap orang, tergantung kebiasaan masing-masing. Pada remaja, kebiasaan yang berpengaruh di antaranya: merokok, minum kopi, atau minuman beralkohol, konsumsi obat tertentu seperti obat anti kejang, antibiotik tetrasiklin, antiartritis, obat tidur, dan kontrasepsi oral. Kebiasaan merokok menghilangkan 25% vitamin C dalam darah. Selain nikotin senyawa lain yang berdampak sama buruknya adalah kafein. Maka, sebisa mungkin hindari minum kopi, teh, dan cola. Selain itu stres, demam, infeksi, dan giat berolahraga juga meningkatkan kebutuhan akan vitamin C.

Dosis vitamin C rata-rata yang dibutuhkan bagi orang dewasa adalah 60-90 mg/hari. Tapi bisa juga lebih tergantung kondisi tubuh dan daya tahan masing-masing orang yang berbeda-beda. Batas maksimum yang diizinkan untuk mengkonsumsi vitamin C adalah 1000 mg/hari. Dosis konsumsi vitamin C yang ideal adalah 75 miligram per hari. Konsumsi viamin C pada ibu hamil dan  menyusui lebih besar dari konsumsi seharusnya,  yaitu lebih dari  200 miligram sehari. Bagi orang yang hidup  stres dosis yang diperlukan sekitar 500 miligram sehari (Suhardjo at ol 986)

KESIMPULAN

Kadar vitamin C pada tablet lebih besar bila dibandingkan dengan kadar vitamin C pada buah. Hal ini karena vitamin C tablet buatan manusia yang telah diatur komposisinya sedangkan pada sari buah kadar vitamin C nya alami dan tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan. Vitamin dibutuhkan oleh tubuh pada batas tertentu untuk menunjang kerja organ tubuh.


DAFTAR PUSTAKA

[Anomim].2009. Manfaat vitamin C. http://www.hd.co.id/tips-sehat/manfaat-vitamin-c. [14 Desember 2009]

Suharjdo  at ol. 1886. Pangan, Gizi, dan Pertanian. Jakarta : Universitas Indonesia

KARAKTERISTIK MORFOLOGI, FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMATANGAN DAN ANALISIS KADAR LEMAK BUAH PEDADA (Sonneratia caseolaris)

Posted by | Posted in Academic | Posted on 20-06-2010

Abstrak

Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem peralihan antara darat dan laut. Hutan mangrove terdiri dari beberapa jenis tanaman, yaitu Avicennia, Sonneratia, Rhizophora dan Bruguiera. Pohon pedada (Sonneratia caseolaris) merupakan salah satu dari jenis Sonneratia, pohon ini dapat menghasilkan buah yang dikenal dengan nama buah pedada. Berdasarkan pengamatan buah pedada berbentuk bulat berdiameter antara 6 sampai 8 cm yang terdiri dari tangkai, kelopak bunga, buah dan perpanjangan putik. Buah pedada dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku makanan seperti sirup dan dodol. Pemanfaatan buah ini dapat diketahui dengan menghitung rendemen buah. Rendemen yang dihitung adalah rendemen daging buah dan rendemen kulit buah. Berdasarkan dari hasil penimbangan yang telah dilakukan, diperoleh bobot utuh dari buah pedada yaitu  sebesar 28 gram dengan bobot kulit 5 gram dan bobot daging beserta biji sebesar 17 gram, sehingga didapatkan rendemen daging beserta biji sebesar 60,71% dan rendemen kulit sebesar 17,86%. Uji proksimat merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kandungan nutrisi dari suatu bahan meliputi kadar protein, lemak, air, abu, serat kasar dan karbohidrat. Analisis proksimat kadar lemak dari buah pedada dilakukan dengan menggunakan metode ekstraksi soxhlet. Metode ekstraksi soxhlet menggunakan pelarut n-heksana (non-polar). Hasil analisis proksimat kadar lemak pada U1 sebesar 1.2% dan U3 sebesar 0.4%. Rata-rata dari ketiga ulangan kadar lemak buah pedada adalah 0.73 %

Kata kunci : hutan mangrove, buah pedada, morfologi, rendemen, kadar lemak, metode ekstraksi soxhlet

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keanekaragaman hayatinya, terutama kekayaan yang terkandung di wilayah perairan. Dengan kekayaan yang begitu melimpah, maka sangat banyak memberikan manfaat bagi manusia. Salah satu bentuk pemanfaatan sumberdaya perairan adalah vegetasi hutan mangrove yang di dalamnya terdapat koloni pohon buah pedada (Sonneratia caseolaris) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai jual tinggi, baik di pasaran regional maupun internasional (Engler 1897 diacu dalam Nyoto 2008).

Potensi mangrove di Indonesia sangat besar karena memiliki beberapa jenis mangrove yang tumbuh subur. Terdapat 5 spesies pohon mangrove dari genus Sonneratia, yaitu : Sonneratia alba, S. caseolaris, S. ovata, S. apetala dan S. laceolata. Salah satu jenis mangrove yang dimanfaatkan buahnya yaitu jenis pedada (Sonneratia caseolaris) yang hidup dan tumbuh di hutan mangrove. Tanaman ini memiliki daun berbentuk elips dan ujungnya memanjang dengan tulang daun berbentuk menjari. Bunga memiliki kelopak bunga mengkilat dan hijau serta datar dengan  benang sari berwarna merah dan renggang. Buah ini memiliki morfologi yang sangat unik berbentuk bulat dengan diameter 6-8 cm (Engler 1897 diacu dalam Nyoto 2008).

Klasifikasi  menurut Tomlinson (1986) diacu dalam Nyoto (2008) adalah sebagai berikut

Filum            : Anthophyta

Kelas            : Angiospermae

Ordo             : Myrtales

Family          : Sonneratiaaceae

Genus           : Sonneratia

Spesie            : Sonneratia caseolaris

Buah pedada termasuk ke dalam kelas Angiospermae, tumbuhan biji terbuka yang memiliki propagule atau bakal buah yang sangat unik. Memiliki kemampuan mengapung dan memiliki akar napas untuk membantu dalam proses respirasi serta reproduksinya polinasi yang dipengaruhi oleh serangga dan angin. Adaptasi yang tinggi terhadap salinitas yang tinggi maupun rendah dengan daun yang tebal, dan adaptasi dengan akar napas serta bereproduksi  dengan bakal buah yang disebut propagule (Engler 1897 diacu dalam Nyoto 2008).

Keunikan tumbuhan ini tak kalah penting dengan manfaatnya baik dari bunga, buah atau daunnya yang digunakan sebagai bahan makanan dan minuman, seperti dodol, es juice dan syrup. Faktor pertumbuhan memiliki cara yang sangat unik serta kondisinya sangat didukung oleh lingkungannya.

Kadar lemak merupakan salah satu unsur yang penting dalam bahan pangan karena lemak berfungsi untuk memperbaiki bentuk dan struktur fisik bahan pangan, menambah nilai gizi dan kalori, serta memberikan cita rasa yang gurih pada bahan pangan. Selain itu lemak berperan sangat penting bagi gizi dan kesehatan tubuh, terutama karena merupakan sumber energi dan sumber vitamin A, D, E dan K (Ketaren 1986). Kadar lemak berpengaruh terhadap perubahan mutu produk pangan selama penyimpanan. Kerusakan lemak yang utama diakibatkan oleh proses oksidasi sehingga timbul bau dan rasa tengik, yang disebut proses ketengikan. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa kandungan lemak apel cukup kecil yaitu 0,4 % (Sukardi et al. 2006).

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfologi, faktor-faktor yang memengaruhi kematangan buah, dan analisis kadar lemak buah pedada (Sonneratia caseolaris).

METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 16 Maret 2010  di Laboratorium Karakteristik  Bahan Baku Hasil Perairan, Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah pisau, nampan, parutan,  timbangan digital, kertas saring, selongsong, tabung Soxhlet, oven, desikator, dan labu lemak. Sedangkan  bahan yang digunakan pada praktikum  ini adalah  buah  pedada (Sonneratia caseolaris) dan n- heksana

Sampel buah pedada diambil dan  ditimbang bobot total sampel (Wa),  setelah itu buah dikupas hingga terlihat daging buahnya, kemudian daging, kelopak dan kulit buah dipisahkan. Berat daging ditimbang (Wb) dan berat kulit ditimbang (Wc). Buah yang telah ditimbang, dihaluskan menggunakan parutan untuk dipreparasi dan dihitung rendemennya dengan rumus sebagai berikut:

Pada penentuan kadar lemak dengan menggunkan metode soxhlet, Buah yang telah dipreparasi dikeringkan, kemudian buah dan labu lemak ditimbang sebagai Wo dan Wt. Sampel yang telah ditimbang, dibungkus dalam selongsong. Selongsong tersebut dimasukan kedalam tabung soxhlet dan pelarut lemak dimasukkan. Tabung ekstrasi dipasang pada alat destilasi soxhlet, lalu diekstraksi  pada suhu 40 ºC dengan menggunakan pemanas listrik selama 6 jam, pengekstraksian dilakukan secara refluks. Pelarut lemak didestilasi hingga menguap, destilasi dilakukan untuk memisahkan pelarut lemak dan lemak. Setelah itu labu lemak dikeringkan dalam oven pada suhu 105 ºC, kemudian labu diletakkan dalam desikator hingga berat konstan. Selanjutnya dilakukan penimbangn pada labu lemak. Perhitungan kadar lemak buah pedada (Sonneratia caseolaris) dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:

Prosedur kerja penentuan kadar lemak pada buah pedada dapat dilihat pada diagram alir berikut ini:

Gambar 2. Diagram Alir Analisis Kadar Lemak Buah Pedada

(Sonneratia Caseolalis)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Rendemen Buah Pedada (Sonneratia caseolaris)

Pada praktikum kali ini, dilakukan penghitungan persentase rendemen kulit dan rendemen daging beserta biji dari buah pedada. Berdasarkan dari hasil penimbangan yang telah dilakukan, diperoleh bobot utuh dari buah pedada yaitu  sebesar 28 gram dengan bobot kulit 5 gram dan bobot daging beserta biji sebesar 17 gram, sehingga didapatkan rendemen daging beserta biji sebesar 60,71% dan rendemen kulit sebesar 17,86%.

Perhitungan rendemen berdasarkan persentase perbandingan antara bobot daging atau kulit dengan bobot utuh dari buah pedada tersebut. Rendemen buah pedada dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Rendemen Buah Pedada (Sonneratia caseolaris)

Rendemen                       Nilai (%)

Daging beserta biji                      60,71

Kulit                                            17,86

Lain-lain                                      21,43

Morfologi Buah Pedada (Sonneratia caseolaris)

Buah pedada berbentuk elips membulat dengan diameter buah 6-8 cm. Daun buah pedada memiliki tulang menjari, benang sari berwarna merah serta memiliki kelopak berwarna hijau mengkilap. Pohon buah pedada ini memiliki perakaran yang disebut dengan pneumatophore atau disebut pula dengan akar nafas sebagai alat bantu respirasi. Daun dari pohon tersebut dapat pula mengeksresikan garam.

Menurut Santoso et al. (2008), tumbuhan pedada (Sonneratia caseolaris (Linn.) Engler 1897) memiliki ciri-ciri seperti : memiliki daun elliptic, puncak daun apiculate/mucronate, dasar daun attinuate oblique, cabang terete/ tetragonous, daun penumpu merah dan linear, benang sari merah/jarang putih, kelopak bunga conaceous-warty/berkilau, kelopak buah datar melebar, buah lebar 5 mm > lebar daun mahkota, biji angular irregular, inflorencens 1-3 (1 atau 2), tepungsari bentuk variabel dengan ukuran 40-60 mmP 30-40 mmE.

Gambar 3. Buah Pedada (Sonneratia caseolaris)

Pohon buah pedada bereproduksi dengan cara polinisasi. Pohon ini dapat melakukan polinisasi setelah berumur 3-4 tahun. Proses polinisasi tersebut sangat dipengaruhi oleh keberadaan serangga, angin serta burung. Selain polinisasi, pohon ini dapat berkembang biak dengan vivipary, yaitu menghasilkan propagule. Propagule merupakan bakal pohon yang keluar dan tumbuh menempel selama berada di induknya yang memiliki kemampuan untuk menancap serta mengapung dan dapat tumbuh berkembang menjadi organisme baru.

Menurut Santoso et al. (2008), tumbuhan pedada (Sonneratia caseolaris (Linn.) Engler 1897) merupakan anggota dari komunitas mangrove yang tumbuh dan berkembang pada salinitas rendah dan biasanya berada pada zona belakang atau diantara zona Nypa dan zona Rhizophora. Seringkali tanaman ini dapat dijumpai sampai jauh di pedalaman, terutama pinggiran sungai-sungai besar, seperti Sungai Kapuas, Sungai Barito, Sungai Mahakam, Sungai Siak, Sungai Musi dan sebagainya.  Bahkan, tanaman ini mampu tumbuh dan berkembang pada lingkungan tawar.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kematangan Buah

Secara umum, proses pematangan buah merupakan suatu fase dimana buah tersebut berubah secara tekstur menjadi lebih lunak, terjadinya perubahan cita rasa dan warna serta peningkatan kadar air daging buah tersebut. Pematangan buah banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya yaitu faktor internal yang meliputi kegiatan fisiologis buah tersebut dan faktor eksternal yang meliputi interaksinya dengan lingkungan.

Menurut Santoso et al. (2008), ciri buah pedada masak adalah yang berukuran besar (bulat dan agak pipih), berwarna hijau tua dan mulai keluar bau harum. Pengambilan biji buah pedada dilakukan dengan cara : (a) mengeluarkan isi buah atau kumpulan daging buah dan biji, (b) mengaduk kumpulan isi buah dalam ember yang dicampur air, (c) menyaring biji dengan alat saringan untuk memisahkan biji dan daging buah, serta menyeleksi biji yang cacat. Jumlah biji tergantung dari ukuran buah, yaitu sekitar 860-1.675 biji/buah. Semakin besar ukuran buah pedada, maka akan semakin banyak jumlah bijinya.

Menurut Saptarini et al. (1994), syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu tanaman buah-buahan dapat menghasilkan buah, yaitu :

  1. Sifat tanaman harus telah diketahui betul apakah bibit tanaman tersebut merupakan bibit tanaman unggul yang dapat berbunga dan menghasilkan buah.
  2. Lingkungan tempat tumbuh tanaman tersebut harus memenuhi syarat, baik iklim, tinggi tempat, unsur hara, curah hujan mapun sinar matahari.
  3. Keadaan tanaman harus sehat dan bebas dari penyakit.

Menurut Sunarjono (1997), ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyerbukan bunga hingga menjadi buah, yaitu :

a)      Ekologi (suhu, kelembaban, curah hujan dan angin).

b)      Keseimbangan unsur hara tanaman (terutama unsur N dan P).

c)      Penyerbukan dan pembuahan.

d)     Keberadaan serangga penyerbuk.

e)      Pestisida

f)       Gangguan hama dan penyakit.

g)      Unsur genetika tanaman tersebut.

Menurut Sutrisno (2003), hormon-hormon yang mempengaruhi faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan buah pedada, yaitu :

  1. Auksin, hormon ini diproduksi di meristem apikal. Auksin yang diproduksi oleh biji akan menyebabkan pematangan buah.
  2. Giberelin, merupakan hormon yang mempengaruhi penambahan ukuran buah, merangsang pembungaan dan pembelahan tepung polen.
  3. Gas etilen, merupakan gas yang merangsang pematangan buah dengan meningkatakan aktivitas enzim yang membantu pelunakan buah.

Bentuk-Bentuk Adaptasi Tumbuhan Mangrove

Menurut Zainal (2010), pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar, mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. Jenis Api-api (Avicennia spp.) dan Pedada (Sonneratia spp.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari udara. Untuk mengatasi salinitas yang tinggi, Api-api mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya. Sementara jenis yang lain, seperti Rhizophora mangle, mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam. Air yang terserap telah hampir-hampir tawar, sekitar 90-97% dari kandungan garam di air laut tak mampu melewati saringan akar ini. Garam yang sempat terkandung di tubuh tumbuhan, diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun. Pada pihak yang lain, mengingat sukarnya memperoleh air tawar, vegetasi mangrove harus berupaya mempertahankan kandungan air di dalam tubuhnya. Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. Beberapa jenis tumbuhan hutan mangrove mampu mengatur bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik, sehingga mengurangi evaporasi dari daun.

Menurut Zainal (2010), Hampir semua jenis flora hutan mangrove memiliki biji atau buah yang dapat mengapung, sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. Selain itu, banyak dari jenis-jenis mangrove yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon. Propagule terbawa oleh arus dan ombak laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya, bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya. Propagule dapat ‘tidur’ (dormant) berhari-hari bahkan berbulan, selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. Jika akan tumbuh menetap, beberapa jenis propagule dapat mengubah perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya, sehingga bagian akar mulai tenggelam dan propagule mengambang vertikal di air. Hal tersebut memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur.

Kadar Lemak Buah Pedada (Sonneratia caseolaris)

Uji proksimat kadar lemak bahan dilakukan dengan prinsip melarutkan lemak dengan senyawa non-polar (n-Heksan) sehingga dapat diketahui persentase terhadap bahan sampel. Berikut merupakan bobot sampel serta bobot labu awal dan akhir dalam pengujian kadar lemak buah pedada (tabel 2).

Tabel 2. Bobot Sampel, Bobot Awal dan Bobot Akhir Labu dalam Pengujian Kadar Lemak Buah Pedada (Sonneratia caseolaris)

Kel.        Bobot Sampel          Bobot Labu Awal         Bobot Labu Akhir

(g)                               (g)                     dan Sampel (g)

1&2 (U1)           5,00                          110,67                           110,73

5&6 (U3)           5,00                          110,70                           110,72

Data di atas dapat memberikan gambaran mengenai kadar lemak bahan. Hasil analisis kadar lemak buah pedada padan U1 adalah sebesar 1.2% dan U3 adalah senesar 0.4%. Sehingga didapatkan rata-rata kadar lemak bahan dari ketiga ulangan tersebut sebesar 0.73%.

Menurut Anneahira (2010), selain mempunyai kandungan senyawa pektin, buah apel juga mengandung zat gizi, antara lain (per 100 gram) : 58 kalori, hidrat arang 14.9 gram, lemak 0.4 gram, protein 0.3 gram, kalsium 6 mg, fosfor 10 mg, besi 0.3 mg, vitamin A 90 SI, vitamin B1 0.04 mg, vitamin C 5 mg dan air 84%.

Kadar lemak pada buah apel diketahui sebesar 0.4%. Kadar lemak pada buah pedada didapatkan pula sebesar 0.73%. Berdasarkan data tersebut, kadar lemak dari buah pedada lebih tinggi dibandingkan dengan kadar lemak buah apel. Hal tersebut banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya yakni faktor internal (hormon dan fisiologis tumbuhan) dan faktor eksternal (lingkungan mencakup faktor suhu, unsur hara, kelembaban serta faktor biotik dan abiotik). Akan tetapi, secara garis besar kadar lemak buah pedada dan buah apel mendekati persentase yang sama. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tiap buah akan memiliki kadar lemak yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi lingkungannya tetapi tetap pada kisaran yan relatif sama.

KESIMPULAN

Preparasi buah pedada dapat dilakukan sebelum dimanfaatkan. Buah utuh di ukur berat, lalu buah diipisahkan antara kelopak, perpanjangan putik, kulit dan daging buahnya. Kulit dan daging buah (termasuk biji buah) ditimbang secara terpisah, dari prepasasi yang dilakukan didapatkan hasil rendemen kulit dan daging buah (termasuk biji buah) masing-masing sebesar 17,86% dan 60,71%. Hasil analisis proksimat kadar lemak pada U1 sebesar 1,2%, U2 sebesar 0,59% dan U3 sebesar 0,4%. Rata-rata dari ketiga ulangan kadar lemak buah pedada adalah 0,73%.